Senjakala Wayang Topeng Dalang Klaten

Selama ini, lazim diketahui bahwa seni topeng dalang Klaten telah mati. Anggapan ini berdasar pada kenyataan jarang diketahui adanya suatu pentas topeng dalang Klaten seperti saat masa jayanya pada dekade 80 sampai 90-an. Kala itu topeng dalang Klaten menjadi tontonan favorit masyarakat, ekspresi kesenian tradisional yang menjadi kajian intelektual dan telah menjadi bagian dari identitas Klaten.

Topeng dalang Klaten adalah sebuah kesenian kuno yang usianya lebih tua dari keberadaan Klaten sendiri. Keberadaannya tak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah.

Dalam catatan sejarah, topeng dalam seni pertunjukan telah dikenal dalam prasasti Jaha (840 M) dari masa Mataram Hindu.Prasasti ini menyebut istilah atapukan yang dipakai untuk menamakan sebuah pertunjukkan tariyang menggunakan topeng atau kedok di daerah Jawa Tengah (Murgiyanto dan Munardi, 1979/1980:10). Pada tahun yang sama, prasasti Kuti menyebutkanpertunjukan topeng dengan memakai istilah hatapukanyang mempunyai arti penari atau disebutjuga matapukandan manapalan yang berarti pertunjukan wayang topeng (Hadi, 1989:4).Sajiannya dipertunjukan dengan cara mbarang (ambarang, berkeliling, mengamen), meskipun tidak disebutkan dengan jelas cerita yang dibawakan pada waktu itu, apakah Ramayana ataupun Mahabharata.

Lebih jauh diungkapkan bahwapada masa Islam Jawa Tengah (abad 16-18: Demak, Pajang, dan Mataram) satu bentukbaru dari raket mengalami perkembangan yang baik. Pertunjukan ini merupakan sebuah dramatari topeng yang menampilkan cerita Panji. Wayang Topeng adalah personifikasi dari Wayang Gedhog, yaitu wayang kulit yang menampilkan cerita Panji. (R.M. Soedarsono,1997: 91).

Negaragung
Tak heran, beberapa dekade kemudian wayang topeng berkembang menjadi kesenian yang hidup di Klaten, sebuah wilayah strategis antara Yogyakarta dan Surakarta, dua pusat kebudayaan di Jawa Tengah.

Dalam sejarah, Klaten merupakan wilayah negaragung(wilayah terdekat diluar ibukota kerajaan) dalam spektrum pembagian wilayah kraton Surakarta. Spektrum wilayah lainnya adalahkuthagara, negaragung, mancanegara dansabrang. Klaten merupakan wilayah potensial bagi perekonomian kraton. Di tanahnya yang subur karena memiliki sumber air yang melimpah terdapat banyak perkebunan tebu, tembakau dan lahan padi yang sangat luas. Dalam kelanjutan sejarahnya, banyak lahan-lahan yang luas di Klaten disewa oleh penjajah Belanda menjadi perkebunan tebu lengkap dengan pabrik-pabrik pengolahannya, seperti halnya di Gondang, Ceper dan Pedan.

Dengan kemakmuran wilayah yang mendukung tingkat perekonomian warganya, orang-orang Klaten merupakan masyarakat kreatif yang mencipta banyak ekspresi kesenian, salah satunya adalah topeng dalang. Kultur agraris juga menggariskan sifat dan sikap komunal yang menjadi pegangan hidup bersama. Kekeluargaan dan kebersamaan menjadi nilai-nilai hidup yang diperjuangkan. Hal ini nampak dalam bentuk seni topeng dalang Klaten yang kebanyakan merupakan ekspresi komunal dan digunakan dalam konteks-konteks acara kemasyarakatan.

Kekayaan ekspresi semacam ini pula yang membuat kraton, sebagaimana lazimnya kerja suatu logika politik kekuasaan, mendaku seni wayang topeng Klaten menjadi bagian bentuk kekuasaannya. Hal ini sejajar dengan logika kekuasaan mancapat mancalima yaitu suatu konsep wilayah yang menjadi pusat dengan daerah pada keblat papat (keempat arah mata angin). Klaten merupakan wilayah di sisi barat (daya) Surakarta. Kraton sebagai sebuah wilayah membutuhkan aspek-aspek politik, ekonomi dan kesenian bagi legitimasi kekuasaannya.

Arti penting Klaten bagi kraton Surakarta dibuktikan dengan adanya prasasti Upit dari abad 9. Seperti kita ketahui, prasasti adalah tanda suatu wilayah yang diberi hak khusus (perdikan) oleh kraton. Wilayah perdikan seperti Klaten ini diberi kebebasan dari membayar pajak karena dianggap berjasa kepada kerajaan.

Tergusur
Namun, seiring perkembangan zaman, kesenian ini kemudian tergusur oleh arus budaya modern. Kondisi politik pun menjadi penyebab tergusurnya kebudayaan yang bernilai tinggi ini. Saat konflik politik pada 1965, membuat berbagai kesenian rakyat identik dengan LEKRA–organisasi kesenian di bawah Partai Komunis Indonesia. Tak pelak, pentas wayang topeng sempat dilarang di awal pemerintahan Presiden Soeharto. Dengan berbagai latar belakang sejarah itulah, topeng dalang hanya tersisa di trah (keturunan) keluarga dalang.

Seiring meninggalnya para tokoh dalang, tidak adanya patron dan proses regenerasi yang tidak berjalan mulus di dalam keluarga trah dalang Klaten sendiri, menjadi faktor-faktor permasalahan yang harus dihadapi untuk terus menghidupkan kesenian tersebut.

Terlebih dengan dinamika jaman yang membutuhkan kontekstualisasi ekspresinya, seni tentu saja membutuhkan anasir-anasir penting bagi keberlangsungan hidupnya, yaitu para pelaku, penonton dan masa atau jaman hidupnya. Para pelaku mutlak menjadi penentu kehidupan topeng dalang Klaten, karena tanpa adanya pelaku, kesenian tersebut tidak akan pernah ditampilkan, apalagi dibahasakan dalam komunikasi kultural-sosial. Pada saat yang sama, komunikasi itu mensyaratkan kegiatan yang resiprokal antara seniman dan penontonnya. Tanpa penonton, tidak akan ada proses komunikasi, dialektika dan identifikasi yang penting dalam komunikasi seni.

Komunalitas para pelaku topeng dalang Klaten yang terkesan “eksklusif” khususnya bagi keluarga sendiri, menjadi satu jebakan tersendiri yang mestinya membutuhkan penjelasan lebih logis demi eksistensi topang dalang Klaten di masyarakat. Karena pada saat yang sama, dinamika laju jaman,kemampuan ekonomi dan reseptifitas terhadap dinamika jaman mampu menciptakan sebuah gaya hidup, keberagaman pilihan dan penyikapan yang lebih bersifat permukaan atas suatu bentuk keseniansampai dengan manajemen ekspresi seni tradisionalmembuat berbagai elemen pergeseran minat penonton, terlebih pada sebuah bentuk kesenian tradisional seperti topeng dalang Klaten. Kesemuanya ini menjadi kompleksitas permasalahan yang dihadapi oleh topeng dalang Klaten saat ini.

Wayang topeng bagi warga Klaten ini bukan sekadar sebuah benda seni. Tapi, juga sebuah penghidupan dan daya pengikat komunal.Pemahaman semacam ini penting untuk mengartikan topeng dalang Klaten dalam konteks ekspresi seni sebagai sebuah ideologi, sesuatu yang mampu menjadi kebanggaan bagi pemiliknya. Dengannya seni menjadi sarana pendidikan bagi masyarakatnya, baik sebagai tinjauan sejarah, refleksi maupun sebagai bekal visioner terhadap masa depannya.


Ditulis oleh Purnawan Andra, alumnus Jurusan Tari ISI Surakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *