Cerita Panji Tentang Cinta dan Pemersatu Bangsa
Oleh Ki Demang
(Pemangku Kampung Budaya Polowijen)


Sebagai anak dari permaisuri keputusan Dewi Kilisuci (Sanggramawijaya Tunggadewi) menolak hak waris dan memilih menjauhkan diri dari segala urusan keduniawian dengan bertapa di Goa Selomangleng Gunung Klotok sebelah barat Kediri membuat Prabu Airlangga khawatir antara anak-anaknya kelak akan terjadi pertumpahan darah perebutan tahta.

Prabu Airlangga-pun lalu memutuskan membagi kerajaan Kahuripan menjadi dua. Pelaksana palihan nagari membagi kerajaan menjadi dua, adalah Mpu Bharada yang dengan kesaktiannya, mahawan gegana, terbang menaiki awan di angkasa, mengucurkan tirta suci yg tak habisnya dari sebuah kendi,
memberi batas antara dua kerajaan disertai puja dan sabda, agar penguasa kedua kerajaan mengutamakan kerukunan untuk kesejahteraan bawana, sebab kutukan akan menimpa sesiapapun yang merebut apa yang bukan menjadi haknya.

Janggala yg berkotanagari di Kahuripan meliputi Malang, Surabaya, Pasuruan, kemudian diperintah oleh Raja Jayantaka Tunggadewa (Prabu Lembu Amiluhur). Sedangkan Panjalu (Kadiri) yg berkotanagari di Daha wilayahnya meliputi Kediri, Madiun, Ngawi, diperintah oleh Raja Jayawarsya Tunggadewa (Prabu Lembu Amijaya). Dalam perjalanan waktu, kedua raja tersebut berniat untuk mempersatukan kembali dua kerajaan. Raden Panji Inu Kertapati (Panji Asmara Bangun), putra mahkota kerajaan Janggala, dipertunangkan dengan Dewi Sekartaji (Galuh Candra Kirana) , puteri kerajaan Kadiri.

Namun tanpa sepengetahuan sang raja dan permaisuri, Raden Panji Asmara Bangun diam-diam menikahi Dewi Anggraeni, seorang wanita dari kalangan rakyat biasa. “Ujaring warta kang ginawa pawana binandhunging karna”, kabar yg tersebar terbawa angin bergema dan terdengar telinga Prabu Lembu Amijaya yang kemudian mengirim duta membawa nawala (surat) menanyakan kebenaran kabar itu, adakah Prabu Lembu Amiluhur berniat membatalkan pertunangan putra-putri mereka. Prabu Lembu Amiluhur terkejut lalu mencari tahu akan kebenaran kabar itu. Kembalinya duta dari kerajaan Kadiri dengan nawala yg berisikan permohonan maaf, karena sebagai orang tua telah lalai mengawasi sang putra. Pertunangan antara Dewi Sekartaji dan Raden Panji Asmara Bangun tidak dibatalkan, dan berjanji akan menyelesaikan persoalan yg ditimbulkan oleh sang putra.

Prabu Lembu Amiluhur lalu memerintahkan orang kepercayaannya, untuk membunuh Dewi Angraeni agar tidak menjadi penghalang. Sementara itu, di kerajaan Kadiri, Dewi Sekartaji sangatlah bersedih, ketika mendengar juga kabar, bahwa Raden Panji Asmara Bangun telah mengawini Dewi Anggraeni. Dewi Sekartaji pun lalu diam-diam meninggalkan keraton. Raden Panji Asmara Bangun yg kemudian mengetahui bahwa istrinya telah meninggal ,sangatlah bersedih, apalagi ketika mendengar kabar, bahwa tunangannya, Dewi Sekartaji juga pergi tak tentu rimbanya karena mengetahui bahwa ia sudah mengawini Dewi Anggraeni.

Raden Panji Asmara Bangun pun pergi dari kerajaan dengan beberapa prajurit pengikut, mengembara untuk mencari keberadaan Dewi Sekartaji. Apa yg telah dipersatukan oleh dewata, tak akan terpisah oleh manusia ,hanya sang kala yg membentangkan jarak sahaja. (Kala berarti waktu, masa. Namun juga bermakna Bathara Kala, sang panggodha rencana, halangan). Dalam pengembaraan, Raden Panji Asmara Bangun dipertemukan dengan Dewi Sekartaji. Akhir cerita yg dipenuhi sukacita segenap kawula nagari, kebahagiaan kedua insan, mengiringi penyatuan kembali kedua kerajaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *