SIKLUS Panji, ’’kecakramanggilingan kisah Panji’’, bersirkulasi dalam lajur laju lingkar ceritanya, melingkar-lingkar, bermula dan berakhir pada terminal yang sama, yaitu keutuhan cinta sejati Inu Kertapati (Asmarabangun) dan Dewi Sekartaji (Galuh Candrakirana). Pengembaraan (klana), salin rupa (malih), bara asmara (kasih), dan perang tanding (tarung) silih berganti tanpa putus membangun jalinan kisah berdaya aruh luas karena bersinggungan dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan. Panji, kisah yang menyentuh rasa, pada kurun waktu panjang, mengeram dalam karakter alam pikir masyarakat pendukungnya.

Pertunjukan jathilan, kisah Panji rakyat, dalam Festival Panji/Inao Internasional di Jogjakarta, 6 Juli 2018

Selain itu, juga sirkum jelajah sebarannya. Pertama, menjangkau wilayah budaya Asia Tenggara, seluas pengaruh masa jaya kenusantaraan Majapahit. Kedua, efek vertikal pengaruh cerita Panji menembus semua lapisan sosio-kultural, dari ’’Panji Rakyat’’ sampai dengan ’’Panji Istana’’, yang keberadaan efek Panji pada lapisan-lapisan itu menciptakan siklus budaya horizontal sehingga kisah Panji merasuk setara merata dan siap menuruti kebutuhan gejolak dan gairah ekspresi kreatif semua lapisan dalam masyarakat.

Ketiga, membangun penguatan karakter dasarnya sebagai kisah romantik penuh ceruk kasih, ornamentik penuh varian dan versi, sekaligus kesyahduan epik, kelembutan heroik penuh elan perjuangan personal di tengah irama konflik kuasa negara (masa JenggalaKediri, 1104–1222).

Perihal ’’Panji Rakyat’’ dalam formal seni tradisi kerakyatan bersumber kisah Panji, jathilan (tari jaran kepang), dengan berbagai ragam sebutan lokal, sampai saat ini masih menyebar luas di kalangan rakyat Jawa Tengah dan Jawa Timur, menjadi hiburan populer pada lapisan akar rumput, pidak pedarakan, dan sering menjadi pengimbang seni-seni adiluhung keistanaan pada lapisan elite sosial, priyayi trahing kusuma.

Pada Festival Panji/Inao Internasional 2018 di Jogjakarta, 6–8 Juli, ditampilkan jathilan dengan lakon ’’Asmarajati’’ karya Dr Kuswarsatyo. Pertunjukan dilangsungkan di Bangsal Pagelaran Keraton Jogjakarta. Jathilan, Panji rakyat yang ’’mampir’’ keraton sembari ’’berteriak’’ kepada dunia bahwa kisah Panji punya daya menyatukan kawasan regional Asia Tenggara, wilayah kultural berikatan saudara, sama-sama ber-Panji.

Sekaligus, menemutunjukkan bahwa

jathilan adalah genre Panji rakyat berdaya jelajah estetika sosial tembus ke atas-bawah (vertikal) dan meluber ke samping kanan kiri muka belakang (horizontal). Artinya, jathilan pun mampu tergarap menjadi corong penyuaraan kekuatan etika-estetikalogika epik Panji sebagai kekayaan warisan budaya dunia. Penetapan Serat Panji, sumber baku kisah-kisah Panji, sebagai ’’memori dunia’’ (Memory of the World, UNESCO, Oktober 2017) menjadi sesuatu yang pantas dan sudah seharusnya demikian.

Kuswarsantyo atau yang kini bergelar KRT Condrowasesa, doktor

jathilan Universitas Negeri Yogyakarta (baca: Sihir Jathilan: ’’Trance Culture’’, Jawa Pos, 9 Februari 2014), kali ini menyaji jathilan lakon ’’Asmarajati’.’

Jathilan Asmarajati disaji dalam format seni pertunjukan festival, dengan koreografi yang telah ’’diperbaiki’,’ namun tetap terlihat nyata jiwa dan rupa kerakyatannya.

Dibanding praktik jathilan yang berkembang di masyarakat, jathilan

Asmarajati telah terstruktur pola adegan, pola komposisi, pola detail gerak, pola lantai, teknik ungkap, dan ekspresi termasuk akrobat, bobot kejelasan cerita dan pemeranan, penataan iringan dan kostum, teknik memainkan jaran kepang, irama dan tempo pertunjukan, dramatika peran, sampai dengan pelibatan lintas generasi dan gender. Alhasil, terpetik decak kagum, bahwa ekspresi kerakyatan berbasis kisah Panji, semacam jathilan, punya daya tembus komunikasi estetik yang melampui batas perbedaan bahasa verbal. Kisah Panji menyiklus pula pada kedayatembusan komunikasi antar dan lintas budaya. Bahkan, kawin budaya yang membasmi sekat-sekat lapis sosial vertikalhorizontal.

Satu yang terlewat, trance atau ndadi, suatu fase ’’penari mabuk’’ dalam pertunjukan jathilan yang sangat ditunggu penonton. Jathilan Asmarajati tak ada trance. Kalau bisa memperlihatkan ’’keindahan lain’’ dalam jathilan, kenapa harus trance?

Mungkin, masyarakat juga sudah bosan melihat realitas harian. Begitu banyak ’’jurus mabuk’’ berupa caci maki dan ujaran kebencian disebarluaskan. Jathilan, Panji rakyat menghindar dari stigma ndadi, hilang kesadaran. Tanpa trance, tanpa ’’jurus mabuk’,’ keindahan pun bisa dihadirkan. (*)


Artikel ini dimuat di Jawa Pos 8 Jul 2018 ditulis oleh Purwadmadi
Purwadmadi, pemerhati dan penulis seni-budaya. Tinggal di Jogjakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *