Wayang Krucil adalah seni pertunjukan wayang mirip wayang kulit namun menggunakan wayang yang terbuat dari kayu pipih dengan tangan terbuat dari kulit sehingga mudah digerak-gerakkan oleh dalang. Berbeda dengan wayang kulit, kelir (layar) wayang klithik terdapat lubang segi empat di depan dalangnya (menyerupai jendela). Gamelan yang mengiringi pertunjukannya juga hanya sederhana dan berlaras slendro, tidak sekomplit wayang kulit. Lakon yang dimainkannya biasanya Cerita Panji, namun tidak jarang juga Cerita Menak dan Damar Wulan.

Pada mulanya, Wayang Klithik atau Wayang Krucil ini tersebar di banyak daerah di Jawa Timur dan sebagian kecil di Jawa Tengah atau DIY. Namun belakangan hanya tersisa di beberapa daerah dengan nama berbeda, yaitu Wayang Klithik (Ngawi), Wayang Krucil (Malang), Wayang Timplong (Nganjuk), Wayang Songsong (Lamongan), Wayang Mbah Gandrung (Kediri). Kalau toh ada di daerah lain, sudah sangat langka pergelarannya.

Konon wayang krucil diciptakan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, namun sumber lain menyebut Sunan Kudus, Sunan Bonang atau juga ada yang mengatakan diciptakan oleh Raja Brawijaya V.

Pada umumnya pergelaran Wayang Krucil dilakukan dalam kaitan dengan upacara ritual masyarakat, seperti Gebyak Syawal, Suroan, Bersih Desa, atau digelar berdasarkan nadzar, kaul, atau keinginan masyarakat yang dikaitkan dengan peristiwa penting dalam kehidupannya. (h)

2 thoughts on “Wayang Krucil

  1. Wayang krucil yang masih rutin pentas di kawasan Malang di desa Gondowangi Wagir rata 15 kali setahun, Kediri (di semen dan Kayen KIdul) sethuan bisa 4 kali, NGanjuk di Prambon bisa lebih dari 4 kali, POnorogo di Sawoo, Ngawi di Kec. PItu bisa lebih dari 8 kali, Bojonegoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *